Jumat, 08 Juli 2016

KUAKAP.COM -Di suatu pagi di sebuah rumah di kawasan Tebet Indah, suara hajjah LS yang menyampaikan kisah Nabi Yusuf, disimak puluhan murid wanitanya. Ada pancar kebahagiaan dari wajah mulus ibu ustadzah yang berusia 53 tahun ini. Disela rehat makan kecil, LS menuturkan kisah hidupnya.

Sejak kecil aku dididik keras dan ketat dalam agama oleh ayahku. Bayangkan aja pada saat makan. Aku dan adik-adikku harus bersabar menunggu yang lebih tua menyendok nasi dan lauk-pauk. Acara makan bersama jadi lama. Suara keras sedikit ayahku langsung marah.

Kalau ayah sedang ada di rumah kami nggak bisa berbuat apa-apa. Nggak bisa dengerin musik, nggak bisa santai berselonjor kaki. Kalau ayah pergi barulah kita bisa santai.

Cerita: 3 Kali Kawin Cerai Dengan Satu Pria Kok Bisa ??

Nggak hanya tata krama yang ditanamkan orangtuaku. Mereka juga mengharuskan ngaji dan sembahyang. Sekarang aku rasakan manfaat kedisiplinan orangtuaku. Aku sudah terbiasa menjalankan kewajiban agama.

Tiap aku keluar rumah salah seorang saudara laki-lakiku wajib mengantar. Aku keluar rumah hanya sekolah saja. Selebihnya aku di rumah saja. Kuisi waktuku dengan banyak membaca buku dan belajar menjahit.

He.. he.. he... tiap hari libur aku selalu mengharapkan ada saudara yang menikah. Jadi aku punya kesempatan jalan-jalan ke luar.

Ketika aku kuliah di Bandung. Wah aku merasa bebas. Tapi karena terbiasa di rumah saja. Tingkahku jadi nggak macem-macem. Emang sih sudah ada pria yang jadi pilihan hatiku.

Sementara di Solo sana, keluargaku menolak beberapa pinangan. Karena ibu sudah punya calon untukku. Terpaksa deh aku putus dengan pria pilihan hatiku. Tapi aku nggak larut dalam kepedihan, seperti halnya anak-anak remaja sekarang yang patah hati. Prinsipku, yang terpenting bisa menyenangkan hati ibuku.

Menikahlah aku dengan laki-laki itu hingga dikaruniai 5 orang anak yang kini sudah dewasa

Aku tak mau menceritakan kisah pahitku yang kawin cerai hingga 3 kali, dengan lelaki yang sama. Bukan karena aku tak enak hati karena bukan aku yang akan tercoreng. Karena selama jadi ibu rumah tangga seluruh hidupku kuabdikan pada suamiku.

Tapi laki-laki yang pernah menyakitkan hatiku itu yang hatinya gerah begitu membaca sebuah majalah yang menceritakan kisah perceraian kami, ia langsung menghubungiku. Dia minta maaf, dan meminta jangan sampai aku bercerita kisah pahit itu. Biarlah kisah itu kukubur dalam-dalam.

Laki-laki pilihan ibu perangainya di luar dugaan, suka judi dan foya-foya. Ia suka sekali ke bar dan diskotik. Aku pernah diajak kesana, pernah pula dipaksa menemaninya. Padahal itu bukan duniaku. Batinku menangis pedih. Aku berdoa pada Tuhan memohon agar suamiku berubah. Tapi yang kudapatkan suamiku tak pernah berubah.

Setelah anak-anak dewasa dan mampu membiayai hidup mereka. Mereka mendorongku agar cerai untuk ketiga kalinya. Karena mereka sudah bisa menilai tingkah laku ayahnya. Mungkin orang menertawakan aku kenapa mau saja berkali-kali menikah dengan suami seperti itu. Demi Tuhan aku melakukannya, karena aku masih ingin berharap ia mau berubah. Bagaimanapun dia ayah dari 5 anakku.

Usai bercerai kegiatan dakwahku semakin kencang saja. Dulu ketika masih bersuamikan laki-laki itu, aku juga sudah sibuk dakwah. Cuman saja ada sesuatu yang ganjil, bayangkan aku sepulang berdakwah kutemui dirinya sedang asyik mengocok kartu bersama kawan-kawannya.

Yah begitulah hidupku waktu itu penuh keganjilan. Ketika suamiku asyik dengan dunianya. Aku asyik kuliah lagi di jurusan dakwah di Assyafiiyah. Aku juga sempat kursus public speaking di Australia, ketika anak-anakku disana dan mereka memboyongku ke sana untuk menghindari laki-laki itu.

Akhirnya kami bercerai untuk ketiga kalinya. Aku kembali jadi lajang. Entah kenapa banyak yang berminat padaku. Mungkin aku cantik ya? Ada beberapa pria kaya meminangku. Aku menolak dengan halus. Aku tak mau suamiku menyangka aku menikah lagi karena harta. Bahkan yang lebih buruk menyangka aku sebelumnya berselingkuh. Astaghfirullah.

Aku tak mau hidup menjanda, bagaimana pun memiliki suami lebih baik. Tapi aku tak mau salah langkah. Aku ingin seorang suami yang baik. Aku terus berdoa dan bertahajud pada Tuhan. Tuhan memberikan jawabannya.

Hidupku terasa lengkap, apalagi anak-anak juga mendorong. Impianku memiliki keluarga sakinah terwujud. Kami sholat bareng. Ia mengajarkanku banyak hal. Kami mengaji bersama.

Sementara itu kesibukanku sebagai ustadzah semakin bertambah. Tubuhku bergerak dari jadwal yang satu ke jadw al lainnya lagi. Supir mengantarku dari satu tempat ke tempat yang lain. Sehari aku bisa 5 tempat lebih. Akibatnya supirku kelelahan. Mungkin karena ngantuk kami pernah kecelakaan. Syukur tak ada yang mengalami luka serius.

Setelah itu, suamiku rajin mengantar menjemputku. Atau anak-anakku yang bergantian menjemputku. Ada banyak manfaat diantar suami tercinta. Waktu kami yang sempit itu jadi ada waktu ngobrol pada saat di dalam mobil.

Kesibukan memberikan pengajian dibeberapa tempat. Tiap memberikan pengajian, ibu-ibu itu memanjakanku dengan berbagai makanan. Mau nggak mau aku meminum suguhan mereka, untuk menyenangkan hati mereka. Lagian aku ngiler juga melihat kue yang enak-enak itu. Bahkan mereka selalu membungkuskan untuk dibawa pulang. Makanan yang banyak lemak dan manis-manis itu, aku makan saja. Kebetulan aku suka manis.

Ternyata sakit perut yang selalu disangka mag oleh dokter tiap aku memeriksa, sakit itu semakin menjadi-jadi, bahkan aku sampai nggak kuat jalan. Syukur suamiku ada disampingku, juga anak-anak. Setelah diperiksa ke rumah sakit ternyata ada batu empedu. Malam itu juga aku harus operasi. Gemetar juga aku mendengar nama operasi. Tapi tak ada kata lain kecuali pasrah.

Terpaksa deh batu empedu dengan empedunya sekaligus dibuang. Rasa sakit yang mendera usai operasi, kuhibur dengan dzikir. Seminggu setelah operasi dakwah lagi. Karena tubuhku masih rentan guncangan, mobil yang mengantarku berjalan pelan sekali. Bergerak sedikit saja terasa sakit. Tapi begitu di depan masyarakat dan menyampaikan dakwah, kebahagiaan menerpaku tak ada lagi rakit.

Begitu usai dakwah rasa sakit kembali menyerang. Sekarang aku tak lagi pernah sakit perut. Tapi aku tak lagi bisa menikmati sembarang makanan. Minumpun harus air putih. Kuterima cobaan ini dengan lapang dada. Yang terpenting aku bisa sembuh dan mampu menyampaikan dakwah.

Dikutip Dari tabloid Wanita Indonesia
Demikianlah Cerita Hidup 3 Kali Kawin Cerai Dengan Satu Pria Artikel Review Dari kuakap.com, Semoga Tentang Ulasan Singkat Sederhana ini Dapat Berguna Dan Ada Manfaat Untuk Kita Semua, Sekian Terimakasih, Luangkan Waktu Anda Juga Untuk Baca Postingan yang lain Yaitu 10 Olahraga ini Lagi Trend Dan Di Gemari Perempuan / Wanita Karir
Title : Cerita: 3 Kali Kawin Cerai Dengan Satu Pria Kok Bisa ??
Posted by : Risky Adiru Rating 5 Star Published : 2016-07-08T18:44:00+07:00
loading...
 
Blogger Designed by IVYthemes | MKR Site
loading...