Selasa, 14 Juni 2016

Beberapa cerita pendek pernah juga diposting disini, seperti cerita  ibu dan anak, cerita seram yang penuh mistik dan fakta uniknya, nah kali ini untuk berbuka puasa bisa teman-teman sekalin baca kisah unik ini

Sebut saja namaku Fera (bukan nama asli). Pada tahun 1998, Aku dan Bram berencana untuk menikah. Sebulan sebelum hari pernikahan, aku meminta agar Bram ikut ke Solo untuk meminta restu pada kedua orangtuaku. Alhamdulillah kedua orangtuaku tidak keberatan menerima Bram sebagai calon suamiku. Tentu saja ini membuat aku bahagia sekali.

Bahkan orangtuaku menaruh simpati yang besar kepada Bram. Setelah mendengar bagaimana dia menjalani hidup ini tanpa kasih sayang dari orang tuanya. Yah… Bram memang yatim piatu. Sehingga sejak kecil dia sudah terbiasa untuk membiayai hidupnya sendiri termasuk untuk makan sehari-hari dan pendidikannya.
Seorang Wanita Rela Bebaskan Calon Suaminya Dengan Jual Diri
Rupanya kisah perjuangan hidup Bram di Jakarta menyentuh perasaan kedua orangtuaku. Ayahku dengan bijaksana malah berkata, “Buat kami silsilah keluarga tidak terlalu penting. Yang penting kamu bisa membahagiakan Fara secara batin. Soal materi, itu bisa dicari belakangan," kata ayahku.

Setelah semua urusan selesai kami berdua kembali ke Jakarta. Tak terasa hari perkawinan yang telah kami tentukan semakin dekat. Kurang lebih dua minggu lagi kami sudah resmi jadi suami istri. Bahkan kami berdua sudah mulai menyebarkan undangan kepada sahabat-sahabat kami.

Rupanya Tuhan mempunyai rencana lain entah kenapa ketika dua hari lagi kami hendak pulang kampung, Bram terlibat sebuah kasus yang membuat dirinya meringkuk di dalam tahanan. Yah…Bram ditangkap polisi karena dituduh sebagai pengedar narkoba.

Aku panik sekali ketika mendengar kejadian itu. Aku tak berani pulang sendiri tanpa didampingi Bram. Apa lagi jika orangtuaku tahu kalau Bram tertangkap polisi. Bisa jadi mereka akan menggagalkan rencana perkawinan anak bungsunya.

Ketika aku menjenguknya, dia mengaku kalau dirinya difitnah oleh teman-temannya. Bahkan mereka dengan sengaja menaruh barang haram itu di kamarnya lantas melaporkan ke polisi kalau Bram menyimpan barang-barang narkoba. Kontan saja polisi datang dan dapat dengan mudah menemukan barang haram itu. Berdasarkan bukti ini, polisi menuduh kalau Bram pengedar narkoba. Aku percaya dengan keterangan yang diberikan. Pasalnya sejak kami kenal, aku belum pernah melihat Bram menggunakan obat-obatan.

Pada kunjungan yang kedua, Bram membisikkan, kalau ada seorang perwira polisi yang dapat menjamin dirinya bebas dari tahanan. Asal dapat memberikan uang tebusan sebesar Rp. 15 juta. Senang bercampur bingung ketika mendapat kabar itu. Senangnya, karena masih ada harapan Bram keluar dari tahanan. Sedangkan bingung, dari mana bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu yang singkat.

Sampai ditempat kost aku berpikir siapa yang rela meminjamkan uang sebesar itu? Sedangkan uang tabungan yang aku punya hanya Rp. 5 juta. Itupun uang simpanan untuk persiapan hari pernikahan nanti. Kalau minta bantuan pada orang tuaku, sangat tidak mungkin. Mereka akan marah besar jika mendengar calon menantunya masuk penjara. Bisa jadi malah pernikahan ini menjadi terancam bubar.

Aku sudah tidak tahu lagi harus mencari kemana uang sebanyak itu. Beberapa kali aku mencoba meminjam dari teman-temanku. Namun mereka tidak ada yang berani meminjamkan uang sebanyak itu. Aku sempat mengajukan pinjaman diperusahaan tempatku bekerja tapi prosedurnya terlalu rumit dan belum tentu uangnya bisa keluar dengan cepat.

Ketika tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan, aku memberanikan diri meminjam langsung pada pimpinan perusahaan tempatku bekerja. Setelah menghadap, aku menceritakan persoalan yang sedang kuhadapi. Dengan senyum Pak Djoni berkata, “Masalah uang itu hal yang mudah. Yang penting kamu bisa memenuhi persyaratan yang aku berikan,” kata lelaki tua itu. “Syaratnya tidak sulit kamu hanya menemani tidur rekan bisnis saya yang berasal dari Australia,” sambungnya. Setelah mendengar persyaratan itu aku marah sekali. Tanpa rasa hormat, aku tinggalkan ruang kerja Pak Djoni. Aku benar-benar tersinggung dengan ucapannya.

Sampai di tempat kos, aku merenung sambil berpikir mencari jalan keluar untuk permasalahan yang sedang aku hadapi. Sementara hari pernikahan yang kami rencanakan tinggal tiga hari lagi. Namun aku belum bisa menemukan jalan keluar bagai mana membebaskan Bram dari tahanan. Dalam kebingungan itu aku berpikir barangkali tawaran Pak Djoni jalan yang terbaik. Saat itu aku hanya berfikir bagai mana cara menyelamatkan pernikahanku sekaligus menjaga kehormatan keluarga di kampung.

Esok harinya, aku menemui kembali Pak Djoni. Ketika melihat kalau aku kembali menemuinya, ia tersenyum dengan penuh kemenangan. Rupanya laki-laki ini memang bajingan. Dia masih bisa tersenyum diatas penderitaan orang lain. Usai kata sepakat didapat, ia meminta agar aku menemui tamunya disebuah hotel berbintang yang ada di Jakarta.

Malam harinya, sekitar pukul 19.00 WIB dengan menggunakan taksi, aku menuju hotel yang telah kami tentukan. Setelah sampai, aku masih berdiri tepat di depan hotel itu. Sebelum masuk, batinku berperang meneruskan atau membatalkan rencana ini. Akhirnya, aku memutuskan untuk melangkahkan terus melangkahkan kakiku. Pada tiap langkah aku membayangkan, bagai mana bisa aku tidur dengan orang yang tidak aku cintai.

Baca Juga: Kisah Pria Punya Rasa Cemburu Santet Saudara Sepupunya

Dibantu oleh seorang resepsionis, aku berhasil menemukan kamar yang telah disewa oleh pak Djoni. Sebelumnya pegawai ini sempat basa-basi dengan mengatakan bahwa aku telah lama ditunggu. Kemudian dengan langkah pasti ia mengantar aku sampai ke depan pintu kamar. Bahkan ia turut membantu mengetuk pintu kamar itu. Tak lama kemudian pintu itu terbuka, betapa terkejutnya ketika tahu yang berada di kamar itu adalah Pak Djoni.

“Masuk Fer! Jangan malu-malu! Anggap saja kalau aku bukan pimpinanmu,” begitu ajakan lelaki itu dengan senyum memuakkan. Tanpa banyak kata aku masuk ke kamar itu dengan muka yang selalu kutundukan. “Berapa uang yang kau butuhkan Fer…?” sambungnya. Tanpa basa-basi aku menyebutkan angka yang kubutuhkan. Mendengar jawaban itu lagi-lagi lelaki ini tersenyum.

“Kau bisa mendapatkan uang itu asal kamu bisa memberikan pelayanan yang memuaskan malam ini. Jujur saja Fer… sebenarnya kamu salah satu pegawai yang selalu menggoda birahiku. Tubuhmu begitu indah,” katanya sambil mendekatiku. Kemudian Pak Djoni memulai merangkul dengan erat tubuhku. Kemudian bibirnya mendarat dibibirku dan tangannya menggerayangi ke seluruh lekuk tubuhku sambil melepas satu persatu kancing baju yang kugunakan.

Awalnya aku diam dan pasrah ketika Pak Djoni mencumbuku. Namun, entah kenapa lama kelamaan aku mulai merasa terangsang oleh sentuhan Pak Djoni. Ternyata lelaki tua ini sangat berpengalaman, dia mampu membangkitkan nafsuku. Rangsangan yang ditimbulkan sangat berbeda. Jika bercinta dengan Bram rasanya biasa-biasa saja. Namun, dengan Pak Djoni nafsuku seakan tidak ingin berhenti. Entah sudah berapa kali kami melampiaskan keinginan kami. Yang jelas ketika matahari sampai di ubun-ubun, aku masih meminta agar Pak Djoni sekali lagi mencumbuku.

Sebelum kami meninggalkan hotel, Pak Djoni memberikan uang yang telah dia janjikan. Bahkan jumlah uang itu sengaja dilebihkan. Dengan uang itu aku berhasil membebaskan Bram yang sedang meringkuk di penjara. Setelah itu kami berdua pulang kampung untuk melangsungkan pernikahan.

Sampai saat ini aku tidak pernah menceritakan kepada suamiku bagaimana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu. Aku takut kalau menceritakan Bram akan marah padaku. Jadi biarlah kisah ini menjadi rahasia dalam hidupku sendiri.

Demikianlah Seorang Wanita Cantik Rela Bebaskan Calon Suaminya Dengan Jual Diri foto video cerita dongeng melayu terbaru
Title : Seorang Wanita Cantik Rela Bebaskan Calon Suaminya Dengan Jual Diri
Posted by : Ena Riskina Rating 5 Star Published : 2016-06-14T15:06:00+07:00
loading...
 
Blogger Designed by IVYthemes | MKR Site
loading...