Jumat, 17 Juni 2016

KUAKAP.COM -Banyak Fakta Dunia Yang Tidak Bisa Di Duga, apa yang akan bakal terjadi esok hari, dan cerita hidup itu akan selalu membawa hikmah tersendiri seperti berikut ini cerita pendek / cerpen kisah shinta nama samaran ( ini bukan cerita rama shinta ataupun shinta jojo dan juga bukan shinta medina apa lagi shinta puspitasari facebook apa lagi artis shinta bachir lihat boleh pegang jangan ) silahkan disimak ceritanya jreeeng..rengggg

Sebelum menikah dengan Shinta, sebenarnya aku pernah menjalin hubungan dengan seorang gadis yang bernama Rini. Sayangnya, hubungan percintaan kami tidak berjalan mulus karena kedua orangtuanya tidak merestui hubungan kami.

Bahkan ibunya sempat menghinaku dengan kata-kata yang menyakitkan dan membuat martabatku sebagai laki-laki jatuh. Karena rasa kecewa itu akhirnya aku memutuskan hubungan dengan Rini dan menikah dengan Shinta.
Termakan Sumpah Akhirnya Keguguran 9 Kali ini Cerita Hikmah Kehidupan

Sebaiknya aku harus berkata jujur. Pada awalnya aku tidak mencintai Shinta dengan sepenuh hati. Aku hanya tertarik dengan kepribadiannya yang lembut dan keibuan. Namun, lama-kelamaan rasa cintaku mulai tumbuh subur terhadapnya. Apalagi setelah Shinta melahirkan dua anak dari benihku. Ketika usia perkawinan kami memasuki tahun ke lima, aku mendengar kabar dari seorang teman lama, ternyata Rini menjalin asmara dengan pria yang sudah berkeluarga. Bahkan, mereka sudah menikah di bawah tangan.

Aku tak menyangka ternyata Rini menjadi seorang wanita penggoda. Kenapa ia tidak mencari lelaki bujangan, dan kenapa harus merebut suami orang? Ah, apa peduliku? Toh aku sudah memiliki istri dan anak yang telah membahagiakanku.

Rupanya perkawinanku tidak berjalan mulus, musibah menimpa istri tercintaku. Shinta mulai sakit-sakitan dan kondisi fisiknya benar-benar rapuh. Bahkan, ia tidak dapat bekerja terlalu berat.

Singkat cerita, penyakit yang diderita Shinta semakin parah. Tubuhnya yang tadinya sintal dan segar mulai berubah menjadi kurus dan layu. Keadaan fisiknya semakin lama semakin mengkhawatirkan, akhirnya aku memutuskan untuk memeriksakan dirinya ke dokter.

Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata Shinta mengidap penyakit paru-paru yang sudah akut. Sejak mengetahui penyakit yang diderita Shinta, aku hampir tidak pernah bermesraan di tempat tidur dengannya. Bahkan, kalau kuajak untuk berhubungan dia selalu menolak dengan alasan dadanya terasa sesak dan sulit bernafas. Sebenarnya aku merasa kasihan melihat penderitaan hidupnya, tapi di sisi lain aku juga merasa tertekan karena tidak dapat melampiaskan hasrat biologisku.

Kalau saja aku tidak kasihan terhadapnya, bisa saja aku memaksa agar Shinta melayani keinginanku atau kulampiaskan dengan wanita lain. Tapi ini tidak kulakukan, karena rasa cintaku yang begitu besar.

Untung aku memiliki hobi memancing, cara ini cukup efektif mengalihkan perhatian ketika aku ingin melakukan hubungan s3ks, atau lainnya. Shinta tidak pernah melarang jika aku memancing sampai pulang pagi. Acara memancing ini, kadang kuanggap sebagai tempat pelarian dan sekaligus merenung. Karena seringnya aku memancing, suatu hari aku bertemu dengan Rini yang kebetulan sedang memancing di tempat itu.

Dalam pertemuan kami saling berbagi cerita. Pada kesempatan itu Rini lebih banyak menceritakan tentang perjalanan hidupnya. Bahkan, ia sampai mengaku kalau dirinya saat itu sudah menjadi janda. Karena sang suaminya meninggalkan entah kemana. Lama kami bercerita sampai-sampai tak terasa hari mulai gelap. Sadar kalau malam sudah datang, ia meminta ijin untuk meninggalkan tempat pemancingan. Sebelum pergi Rini sempat menawarkan agar aku mau berkunjung kerumahnya.

Beberapa hari kemudian, kami bertemu lagi di tempat yang sama, pada kesempatan itu Rini bertanya tentang kabar Shinta. Kujelaskan panjang lebar nasib buruk yang dialami Shinta, ketika mendengar penuturanku, raut muka Rini bukannya prihatin atau iba melainkan malah tersenyum gembira.

Setelah aku menceritakan tentang keadaan Shinta, Rini semakin berani menghubungiku tidak hanya di kantor tapi di rumahpun dia sering menghubungiku lewat HP. Makin lama aku semakin tidak sanggup menghadapi rayuan Rini. Apalagi ketika ia memohon agar aku mau menginap di rumahnya barang sehari saja. Sebagai lelaki yang sudah lama tidak mendapat pelayanan dari seorang istri, tentu saja aku terkena bujuk rayu Rini.

Ketika aku menuruti keinginannya, pembaca pasti sudah tahu apa yang kami lakukan. Yah…kami melakukan hubungan yang hampir setahun ini tidak pernah kurasakan. Seperti orang yang sedang kelaparan kami melakukan hubungan itu berulang-ulang. Sejak saat itu, aku menjadi sering menginap di rumah Rini. Saat itu aku sudah tidak pusing-pusing lagi untuk mencari penyaluran kebutuhan biologisku. Karena Rini bersedia melayani kapanpun aku mau.

Kurang lebih lima bulan kami melakukan hubungan suami istri, tanpa sadar benih yang tertanam di rahim Rini ternyata tumbuh dengan subur. Makin lama perut Rini semakin membesar itu membuat aku semakin panik. Apalagi pihak orangtuanya menuntut agar aku menikah secepatnya. Tapi, mana mungkin sedangkan Shinta dalam keadaannya sekarat. Karena untuk menjaga nama baik keluarga, akhirnya kami menikah diam-diam dengan perjanjian aku harus bergilir secara adil. Ini agar Shinta tidak terlalu curiga kepadaku.

Ternyata benar apa kata pepatah, sepandai-pandainya menyimpan bangkai, pada akhirnya tercium juga. Shinta mulai curiga dengan perubahan sikapku. Shinta mulai tidak percaya dengan alasan yang kuberikan. Bahkan Shinta sempat berkata, “Aku tidak akan rela jika kau kawin atau tidur dengan perempuan lain dengan alasan sakit yang kuderita,” katanya. Hal tersebut memancing perang mulut antara aku dan Shinta. Aku tetap berusaha menjaga rahasiaku sementara Shinta ngotot tidak percaya kalau aku tidak melakukan selingkuh.

Aku berusaha meredakan emosinya ketika melihat nafasnya terengah-engah. “Sudah...jangan terlalu banyak pikiran nanti kesehatanmu makin memburuk,” kataku. Rupanya ini tidak disambut baik bahkan Shinta semakin meracau yang tidak-tidak, “Aku tidak takut mati! Karena, semua orang akan mati. Justru yang kutakutkan kalau umurku habis gara-gara mengetahui kau kawin lagi dengan perempuan lain. Aku tidak akan memaafkan jika ada perempuan yang merebut kasih sayang suami dan anak-anakku,” katanya. Setelah kejadian itu penyakit Shinta semakin parah, tapi dia selalu menolak kalau aku menawarkan agar berobat ke rumah sakit

Entah hari itu barang kali hari tersial dalam hidupku. Ketika aku pulang kantor, aku melihat halaman rumahku telah dipenuhi orang. Ketika mendekat, aku sangat terkejut sekali. Karena di dalam rumah, Shinta sedang bertengkar hebat dengan Rini. Mereka saling memaki satu sama lain. Rini yang sedang hamil muda itu menyumpah agar Shinta cepat mati.

Shinta juga tidak mau kalah ia menyumpah balik, “Dasar perempuan perusak rumah tangga orang. Aku bersumpah kau tidak akan mendapat keturunan dari suamiku. Aku akan membunuh benih suamiku yang ada di perutmu sebelum lahir ke dunia. Aku akan menuntut balas!” teriak Shinta sambil memegang dadanya. Agar tidak menjadi bahan tontonan para tetangga, akhirnya aku meminta agar Rini meninggalkan rumah kami.

Tak lama kemudian Shinta tidak sadarkan diri ketika kubawa ke rumah sakit, dalam perjalanan ia menghembuskan nafas terakhir. Untung aku masih sempat membisikkan kata maaf di telinganya dan ia tersenyum manis padaku. Setelah itu, baru Shinta menutup mata untuk selama-lamanya.

Tiga hari setelah meninggalnya Shinta, Rini yang sedang hamil muda, tiba-tiba mengalami keguguran. Ia mengalami pendarahan yang sangat hebat, bahkan hampir merenggut nyawanya. Aku sempat heran tentang kejadian itu. Padahal, sebelumnya dokter bidan  mengatakan kalau kandungan Rini dalam keadaan baik, tidak ada kelainan sama sekali. Tapi kenapa bisa mengalami keguguran?

Rupanya kejadian itu tidak hanya sekali. Setelah umur pernikahan kami memasuki usia dua tahun, Rini mengandung anaku lagi. Namun, ketika kehamilannya berumur lima bulan, kejadian yang sama terulang lagi, Rini mengalami keguguran tanpa sebab. Bahkan kejadian ini terjadi terus-menerus. Kurang lebih sembilan kali Rini mengalami keguguran. Anehnya, kegugurannya ini selalu pada usia kehamilan empat atau lima bulan.

Akhirnya aku mempunyai berkesimpulan, kalau kejadian ini akibat sumpah mendiang istriku yang tidak rela kalau aku sampai mempunyai keturunan dengannya. Semakin lama perkawinanku dengan Rini makin memburuk. Hampir setiap hari kami selalu bertengkar yang tidak jelas sebabnya. Akibat sering bertengkar akhirnya hubungan kami berbuntut pada perceraian.

Setelah bercerai sampai dengan saat ini, aku memiliki dua profesi sekaligus. Menjadi ibu dan ayah dari kedua anakku hasil buah cinta antara aku dan Shinta. Sebenarnya ada keinginan untuk mencari teman wanita dalam hidupku. Namun, aku takut dengan sumpah mendiang istri tercintaku Shintawati. Mudah-mudahan dengan hidup yang kujalani sekarang membuat Shinta bahagia dan tenang di alam sana. Apalagi jika ia bisa melihat kalau aku sanggup membesarkan kedua anaknya dengan tanganku sendiri.

Demikianlah Cerita Hikmah Kehidupan Termakan Sumpah Akhirnya Keguguran 9 Kali Artikel Review Dari kuakap.com, Semoga Tentang Ulasan Singkat Sederhana ini Dapat Berguna Dan Ada Manfaat Untuk Kita Semua, Sekian Terimakasih, Luangkan Waktu Anda Juga Untuk Baca Postingan Sebelumnya Yaitu Punya Cinta 1 Kantor, Bisa Jadi Anda Seperti ini Rini Soemarno cerita inspirasi kompas selingkuh pemuda dengan gadis desa cerita kehidupan mengharukan bikin nangis liputan6 detik Shinta Bachir Health
Title : Termakan Sumpah Akhirnya Keguguran 9 Kali ini Cerita Hikmah Kehidupan
Posted by : Ena Riskina Rating 5 Star Published : 2016-06-17T16:52:00+07:00
loading...
 
Blogger Designed by IVYthemes | MKR Site
loading...