Senin, 18 April 2016

KUAKAP.COM - banyak anak-anak suka baca buku komik, dan beranjak dewasa merekapun beralih kebuku novel, padahal sekarang untuk melihat cerita dalam buku bisa aja ada filmnya, namun terkadang si kutu buku ini sangat sulit untuk diajak kemauan kita untuk pergi ke bioskop, dan mereka memilih baca buku majalah ataupun novel, auto biografi tokoh yang menurut mereka lebih nikmat cerita itu jika dibaca karena tidak dikekang bagaikan di penjara

Ada yang menarik kami lihat setelah baca kisah cerita dari seorang jurnalis televisi swasta Metro TV saat ia dahulu bekerja untuk meliput di negara yang dilanda konflik, dan perempuan itu juga pernah membuat buku dengan judul "168 Jam Dalam Sandera" Kabarnya Buku ini menjadi best seller saat lunching ketika pertama dikeluarkan pada tahun itudan sempat juga seorang ARTIS cantik" Dian Sastro" indonesia mendengar kisahnya dan ia ingin menjadi wartawan.

Kabarnya dahulu saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono Pernah meminta Brigade Mujahiddin di Irak membebaskan reporter Metro TV itu

Awalnya Karena Penasaran kami cari seperti apa kisah saat jurnalis Metro TV itu disandera saat konflik Agresi Meliter Amerika Ke Irak dan kabarnya dahulu saat namun ada beberapa ebook yang harus dibeli, namun ada juga bentuk ebook PDF dan harus didownload, jadi menurut kami cari untuk praktis dengan mencari history website dia, namun karena pada alamat http://meutyahafid.com domain itu sudah tidak bisa lagi di akses maka jalan satu-satunya mencari cache yang tertinggal di internet akhirnya munculah isi tulisan Meutya Hafid.
Cerita Meutya Hafid "Metro TV" Dibelai Allah Di Ramallah

Untuk Mempersingkat apa sih yang ditulis Meutya Hafid pada judul Meutya Hafid Dibelai Allah Di Ramallah? Berikut ini isi lengkap di web beliau

“Beda antara hidup dan mati sangat tipis. Siapa yang bisa memilih, selain Allah SWT?” Perjalanan jurnalistik reporter Metro TV, Meutya Hafid — bersama kameramen Budyanto — pertengahan Februari lalu ke Irak memberikan pelajaran serta hikmah yang amat besar dalam hidupnya. Peliputan pelaksanaan pemilihan umum kali pertama setelah tumbangnya rezim Saddam Hussein dan peringatan hari Asyura (10 Muharram, red) keduanya, berakhir di sarang Mujahidin. Bersama sopir Ibrahim, mereka disandera kelompok ini selama tujuh hari di sekitar wilayah Ramadi, 150 km dari Baghdad

Wanita kelahiran Bandung 3 Mei 1978 ini justru merasa kedekatannya dengan Sang Khalik hampir tanpa sekat di sana. Ia merasa yakin ada maksud tertentu dari Yang Mahakuasa, dan dia pasrah. ”Pasti ada maksud Allah menaruh saya di sini; berkumpul bersama orang-orang yang tidak terbayangkan saya bisa bersama meraka. Dan, kenapa itu terjadi pada diri saya. Ini pasti ada maksudnya, ada pelajaran yang mesti saya tarik,” ungkap Meutya ketika ditemui Republika Kamis (3/3), di rumahnya yang asri di kawasan Lebak Bulus Jakarta Selatan.

Putri bungsu pasangan almarhum H Anwar Hafid-Metty Rumaety ini mengaku justru melihat kebesaran Allah selama tujuh hari disandera. ”Allah mempertemukan orang-orang yang berbeda-beda yang awalnya penuh ketakutan dan kecurigaan. Dengan niat dan tujuan berbeda-beda kemudian disatukan selama tujuh hari,” tutur Meutya haru.

Ia sempat merinding ketika di dalam goa, mendengar deru mesin kapal dan helikopter milik militer Amerika Serikat. ”Terus terang, yang paling aku takutkan selama disandera adalah kapal militer AS dan bukan para Mujahidin,” kata Meutya menjelaskan.

Kekhawatiran sarjana Teknik Industri asal University of New South Wales Australia ini sangat beralasan. Dengan dalih ingin menghantam kelompok Mujahidin yang sejak jatuhnya Saddam Hussein terus melakukan perlawanan terhadap pasukan koalisi, tak sedikit sandera yang dibebaskan justru tewas dibantai oleh militer AS.

Fakta yang paling anyar adalah ketika konvoi pembebasan wartawati Giuliana Sgrena asal Italia yang mendapat kawalan dari agen rahasia Italia, ditembaki militer AS. Akibatnya, agen rahasia Nicola Calipari (50) tewas.

Ia ingat betul detik-detik menjelang pembebasannya. Sehari menjelang dibebaskan, tiba-tiba ia dan Budiyanto secara dibawa pergi dari goa seluas 3×5 meter yang selama tujuh hari ditempatinya. Pimpinan Mujahidin datang tiba-tiba dan membawa mobil berteriak agar kita semua cepat keluar dari tempat itu.

Sebelum pembebasan, sang pemimpin Mujahidin memberikan keleluasaan kapan harus keluar dari goa. ”Kamu sudah bebas, kamu pilih sendiri kapan mau berangkat. Kalau malam ini, tak ada yang berani keluar malam. Atau kamu mau berangkat besok Senin pagi,” ungkap Meutya menirukan kata-kata sang pemimpin Mujahidin.

Ia memilih keluar Senin pagi, walau pun tahu daerah itu sudah sangat rawan karena intensitas pesawat-pesawat tempur militer AS semakin sering melewati kawasan itu. Rata-rata setiap sepuluh menit sekali ada pesawat tempur. ”malam itu kami diselamatkan oleh Tuhan melalui para pejuang-pejuang ini. Mereka membawa kami, mereka betul-betul bertanggung jawab tidak membiarkan kami di sana karena kami di tangan mereka dan mereka bertanggung jawab sampai kami betul-betul dibebaskan,” ungkap Meutya penuh syukur.

Dengan kecepatan tinggi, sang pemimpin mengendari mobil meninggalkan goa. ”Hari mulai gelap, kondisi mobil sudah tua, penumpangnya enam orang dengan muatan barang begitu banyak. Saya baru kali itu melihat para penjaga Mujahidin panik,” ujarnya.

Mereka mengendarai mobil dengan sangat kencang. Ban mobil terantuk batu, mesin mobil pun mati. Upaya menghidupkan lagi mesin mobil gagal. ” Akhirnya kita baca doa sama-sama. Sungguh ajaib, ketika sang pemimpin yang di depan membaca la haula wala quwwata illabillahi (tiada daya dan kekuatan selain dari Allah-red), mesin mobil hidup. Kami melanjutkan perjalanan di bawah penerangan cahaya bulan dan kedip bintang.”

Tak ada pembicaraan selama perjalanan. Mereka tak menjelaskan kenapa tiba-tiba membawa lari dari goa. ”Semuanya hanya berdoa dan berdoa,” ungkap Meutya, seraya menambahkan wajah para mujahidin terlihat sangat tegang dan pucat. Begitu paniknya, mereka sempat tersasar karena mobil menembus kegelapan malam tanpa sedikitpun cahaya lampu untuk menghindari kejaran militer AS.
Begitu sampai di sebuah perkampungan, ia dimasukkan ke sebuah ruangan tapi bukan di goa. ”Di situ saya sudah mulai mendengar suara anak kecil. Mereka baru menjelaskan, ternyata pasukan koalisi dan militer AS sudah di goa. Lambat sedikit, habislah semua. Makanya kita baru mengerti kenapa mereka begitu panik. Yang datang ke goa, adalah infantri dengan pasukan lengkap siap melumat dan menghabisi kami.”

Beruntung, kata Meutya, infantri itu masuk dari arah berlawanan. Dengan mobil tua tanpa lampu dan sempat mogok, mereka selamat dari kejaran pasukan koalisi dan militer AS. ”Di situ benar-benar terlihat beda antara hidup dan mati sangat tipis. Siapa lagi kalau bukan Allah yang memilih?” tambahnya.

Semua kejadian dalam penyanderaan di Ramadi Irak, dirasakan Meutya sebagai bukti kasih sayang Allah SWT kepada dirinya. ”Aku merasakan ini semua bukti dari cinta dan kasih sayang Allah apalagi setelah sampai di Indonesia,” papar Meutya yang mengaku menangis justru setelah diberitahu anggota Mujahidin kalau Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan sang mama, Metty Rumaety, tampil di televisi. ”Saya nggak menyangka ini telah merepotkan banyak orang.”

Lantas, bagaimana sesungguhnya pengalaman yang ia rasakan selama tujuh hari bersama kelompok Mujahidin Irak yang menyanderanya di dalam sebuah goa berukuran 3×5 meter? Menurut Meutya justru Mujahidin Irak sangat manusiawi. ”Pertama kita masuk goa kosong tak ada apa-apa. Malam itu mulai ada suplai makanan, berupa kebab. Mereka mulai membawa alat tidur dan selimut. Mereka melayani kita,” paparnya.

Meutya sendiri mengaku sangat dekat dengan para penyandera. Selain bisa beribadah, selama tujuh hari mereka selalu makan bersama. ”Bayangkan, kita selama tujuh hari bersama-sama, makan juga kita sama-sama. Karena ruangannya sangat sempit kita nggak bisa shalat berjamaah.”

Ia mengaku selama dalam goa dirinya dan Budiyanto sehat walafiat. Dari segi makanan — walau tidak begitu akrab dengan perutnya — nmereka ’sejahtera’. Selain kebab dan roti Arab, mereka juga sering diberi keju, soft drink, jeruk, apel, dan makanan lainnya. ”Mereka benar-benar mempunyai rasa kemanusiaan yang sangat tinggi.”

Selama bersahabat dengan Mujahidin, ia merasa tenang, Bahkan tak sedikit menyaksikan peristiwa menggelikan. Misalnya, karena goa tak memiliki pintu sehingga angin berhembus kencang, Mujahidin pun berusaha menutupi pintu goa dengan plastik tebal seperti terpal dengan paku dari peluru. ”Mereka tembakkan senjata dan peluru kosongnya dijadikan paku. Mereka sangat kreatif,” ujar Meutya seraya menebar senyum.

Bentuk lain perhatian Mujahidin, ketika ia tak terbiasa meminum dengan tempat kobokan, besoknya sang mujahidin membawakan gelas. Padahal ia sama sekali tak pernah meminta gelas. Untuk membuat teh mereka membawa poci teh. Jadi, sambil mengisi waktu, mereka meminum teh bersama-sama. ”Ini yang membuat semakin lama kita tambah dekat. Karena saat bikin teh itu, mulai dari masak airnya dan sambil menunggu masak air, kita ngobrol. Saya bilang kalau di Indonesia kita minum teh, gelasnya besar-besar tidak kecil seperti ini,” ujar Meutya yang mengaku lupa telah berhari-hari di dalam goa.
Meutya juga mengaku makin dekat dengan Tuhan selama dalam penyanderaan. Begitu ia sadar dirinya dalam genggaman penyandera, hal pertama yang dilakukannya adalah mengambil buku Surat Yasin dan Doa yang dibukukan khusus dalam rangka tahlilan bagi sang ayah yang wafat 2 Mei 2004.

Banyak yang menganggap, pemilik berat badan 46 kg dengan tinggi badan 160 cm, terlalu kecil untuk sebuah liputan menegangkan di kawasan penuh konflik, Irak. Padahal bagi Meutya, pengalaman liputan di Irak itulah yang paling berkesan. Dari kecil, ia dikenal mandiri dan bernyali besar.
Soal nyali dan kemandirian ini, dapat dilihat dari pengalaman hidupnya. Kendati bungsu, Meutya sejak SMA dan perguruan tinggi jauh dari keluarga. Ia menempuh pendidikan SMA di Singapura atas beasiswa dari pemerintah Singapura. Sedangkan kuliah di Australia atas beasiswa dari PT PAL melalui Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). ”Alhamdulillah, saya sejak kecil mendapat bimbingan agama yang sangat kuat dari kedua orang tua,” ungkap wanita berdarah Bugis dan Sunda ini.
Biodata Profil Nama Asli Meutya Viada Hafid
Tempat / tanggal Lahir: Bandung 3 Mei 1978
Ayah : H Anwar Hafid (almarhum)
Ibu : Metty Rumaety
Kakak : Farid Fitra Syawal Hafid (almarhum), Finni Hafid, Iss Savitri Hafid
Pendidikan : S1 Teknik Industri University of New South Wales Australia
Sumber: Republika, Jumat 18 Maret 2005
Demikianlah Materi Cerita Meutya Hafid "Metro TV" Dibelai Allah Di Ramallah Artikel Review Dari www.kuakap.com, Semoga Tentang Ulasan Singkat Sederhana ini Dapat Berguna Dan Ada Manfaat Untuk Kita Semua, Sekian Terimakasih, Luangkan Waktu Anda Juga Untuk Baca Postingan Sebelumnya Yaitu Bagaimana Cara Stop Auto Loading Dan Mempercepat Koneksi Browser Google Chrome pengertian dan definisi arti Kata Ramallah Ustadz Abu Bakar Ba’asyir
Title : Cerita Meutya Hafid "Metro TV" Dibelai Allah Di Ramallah
Posted by : Ena Riskina Rating 5 Star Published : 2016-04-18T01:02:00+07:00
loading...
 
Blogger Designed by IVYthemes | MKR Site
loading...