Rabu, 23 Maret 2016

KUAKAP.COM - Relationship, Penderita  / penyakit gangguan seperti fobia komitmen sangat takut mendengar  berupa suatu ikatan / komitmen bersama yang terucapkan dari pasangan yang ia cintai
Perempuan bukanlah layang-layang yang bisa seenaknya ditarik ulur perasaannya. Kepastian sangat mereka dambakan. Kenapa pria takut untuk masuk dalam sebuah ikatan?
         
Punah sudah harapan Lidya. Sejak kecil cita-citanya sederhana saja: punya pacar cakep dan berkecukupan lalu mangajaknya untuk mengikat janji di depan penghulu. Sebenarnya separuh dari keinginannya itu telah terpenuhi. Erik nama sang pacar teramat ganteng–setidaknya di mata dia dan hidup berkecukupan tapi dia selalu ogah diajak kawin. Padahal mereka sudah berpacaran selama tujuh tahun

FOBIA : Komitmen Dalam Hubungan CintaSayangnya tiap kali Lidya menagih janji rencana pernikahan mereka pria idamannya itu selalu menghindar. Saban ditanya Erik pura-pura budek. Akibatnya keduanya sering bertengkar. Ini yang membuat Lidya pusing tujuh keliling. Sebabnya Erik tak pernah punya alasan tegas kenapa dia ogah membicarakan kelanjutan episode hubungan mereka.

Padahal Erik terhitung bukan remaja lagi mengingat umurnya yang telah menginjak kepala tiga. Status Erik pun sebagai manajer di sebuah perusahaan telekomunikasi kondang lebih dari cukup untuk hidup mereka berdua. Eh sekarang malah Erik makin jarang datang bertandang. Lidya kelimpungan dibuatnya.

Laki-laki macam Erik tentulah tak hanya dia sendiri di muka bumi ini. Masih ada ribuan atau mungkin jutaan perempuan yang menjadi korban lelaki seperti itu. Mau enak tanpa mau terikat. Mungkin bisa jadi perempuan seperti Lidya merasa geer sendiri. Lelaki yang selama ini dianggap “kekasih” ternyata cuma tipe pria yang enggan berkomitmen.

Secara populer orang mengenalnya dengan istilah commitment phobia atau takut untuk menyatukan diri dalam sebuah ikatan. Menurut berbagai pendapat fobia jenis ini merupakan sebuah istilah yang menunjuk pada sebuah ketakutan pada keterbatasan atau keterikatan dalam sebuah hubungan. “Ketakutan atau kecemasan ini tidak realistis” ujar Tarmidi pengajar di Program Studi Piskologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Medan.

Dari sudut psikologi menurut Tarmidi lelaki tersebut cenderung takut menghadapi apa yang akan terjadi di masa depan. Ia selalu menghindari objek yang ditakutkan. Dalam perkara ini ya situasi berkomitmen itu. Meski masalah itu bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan.

Sebenarnya hal ini bisa terjadi pada siapa pun termasuk kaum hawa sendiri. Tentu saja faktor penyebabnya ada. “Tidak siap secara mental dalam berumah tangga atau belum yakin dengan pasangannya itu” cetus Tarmidi lagi. Mendeteksinya pun lumayan mudah. Gejala yang paling umum adalah sering menghindari sang objek.

Dalam skala tertentu menurut Tarmidi manusia fobia itu bisa muntah dengan hanya membayangkan objek atau situasi tersebut. Uniknya lelaki ini biasanya enggan melepaskan hubungan dengan kekasihnya itu. Yang kasihan pasti pihak perempuan. Cinta dan statusnya terkatung-katung.

Pendapat agak berbeda datang dari Monty P. Satiadarma Dekan Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara yang juga konselor di Koni Pusat. Menurut dia batasan commitment phobia amat tegas. Jika keduanya masih kompak seperti keyboard dan mouse artinya yang bersangkutan tidak fobia. Kalau kemudian dia enggan menyandang peran sebagai pacar kekasih atau suami dia bersikap menghindar atau menjauh terhadap peran. Lebih lanjut Monty menegaskan fobia ini lebih cenderung memiliki indikasi menjaga jarak hubungan cenderung berpikir negatif dalam membina hubungan sosial dan menghindar dari tanggung jawab.

Namun jangan pula khawatir. Ada terapi jitu yang biasa dilakukan psikolog. Kata Tarmidi “Sang lelaki harus menghindari kecemasan itu perlahan-lahan. Misalnya cobalah membayangkan sebuah komitmen dan jangan dulu berkomitmen.” Sebisa mungkin membuatnya rileks.Setelah itu mintalah ia membaca atau menonton TV tentang tema yang bersangkut dengan komitmen. Lalu belajarlah berbuat komitmen kecil-kecilan. Janji membelikan sepeda baru jika adik tengah berulang tahun bisa dijadikan contoh kecil terapi buat si commitment phobia ini.

Jadi sesungguhnya manusia jenis ini bukanlah pribadi yang jahat. Lelaki yang mengidap gejala ini hanya manusia biasa yang memiliki ketakutan pada sebuah “jebakan”. Tak ubahnya dengan manusia yang fobia pada tempat tertutup atau keramaian.

Ketakutan pada kata “komitmen” begitu kuat dalam diri orang seperti ini. Dorongon cinta dan hasrat untuk bebas sama dahsyatnya. Malah jika tak waspada perasaan tertekan pada sebuah komitmen bisa menyebabkan si lelaki panik. Oleh karena itu pula dengan sekuat tenaga dia mencari jalan keluar mengakhiri komitmen itu sekuat saat dia terlibat di dalamnya.

Sekali-sekali tanyakanlah pada pasangan bagaimana dia memandang diri Anda. Tapi jangan kaget kalau ternyata Anda tergolong pria yang takut berkomitmen biarpun dalam skala yang kecil.

Nah lebih afdol lagi perhatikan ciri-ciri orang yang takut untuk masuk dalam sebuah ikatan. Cermati gejala-gejala yang dirangkum dari berbagai bahan termasuk askmen.com. Eh siapa tahu Anda masuk dalam golongannya.

Pada Tahap Awal dari Hubungan Anda akan:

· Datang dengan gagah jauh lebih agresif dan suka gombal ketimbang si dia. Bahkan mungkin Anda rela menukar nama belakang Anda dengan nama depannya.

· Melakukan segala cara agar selalu bersama. Malahan ini yang luar biasa membatalkan rencana clubbing atau pelesiran misalnya ke Anyer yang sudah direncanakan jauh-jauh hari bersama teman-teman Anda demi si dia.

· Selalu menelepon hanya sekadar mengucapkan “hai”.

· Suka berjanji setinggi langit semisal: “Saat liburan ke Amrik tahun depan kita akan menginap di pinggir Pantai Hawaii yang romantis."

· Menganggapnya sebagai prioritas utama dalam hidup. Real Madrid klub sepak bola idola Anda cuma Nomor 17.
Pada tahap awal ini sesungguhnya pasangan Anda sudah curiga dan sepertinya “ada udang di balik batu” dengan semua perhatian yang berlebihan itu. Sekali Anda merebut hatinya percayalah dia serasa dihipnotis dengan cinta Anda yang menggila itu.

Pada Tahap Pertengahan dari Hubungan Anda akan:

· Lambat laun mengurangi frekuensi telepon dan perhatian padanya.

· Waktu berduaan mulai terjadwal. Belanja di Plaza Indonesia seperti Gunung Himalaya yang mengimpit dada.

· Anda sudah tidak lagi melibatkan dia dalam pertemuan sosial. Lingkaran sahabat keluarga karier dan rekan kerja Anda anggap sebagai “daerah terlarang” untuknya. Tak ada lagi cerita golf bersama akhir pekan atau nonton bareng.

· Suka membuat alasan agar tidak datang menemuinya. “Rumahnya yang jauh” “Tidak suka kucing peliharaannya” merupakan dua alasan favorit Anda.

· Mulai mencari-cari kesalahan besar dan yang mencolok darinya yang tidak mungkin bisa berubah seperti tinggi badan warna kulit latar belakang keluarga dan status keuangan. “Kenapa ya rambutmu tak selurus Titi Kamal aktris idamanku itu lo” atau “Aku lebih suka kalau kulitmu putih seputih keramik cina” begitu gerutuan Anda.

· Menolak berbicara tentang hubungan atau membuat komitmen. Hubungan Anda berjalan di tempat.
Di level pertengahan itu dia berpikir untuk lebih mencintai Anda bahkan jauh lebih mendalam. Dia memasakkan makanan favorit Anda dan mengenakan lingerie terseksinya. Tetapi semakin dia mencintai kian tertekanlah Anda. Semakin dia menghayati dirinya sebagai “istri” semakin Anda merasa telah ber-“komitmen”. Anda pun mulai mencari-cari alasan agar bisa lepas darinya.

Pada Tahap Akhir dari Hubungan Anda akan:

· Kerap merekayasa dan menemukan kesalahan pada dirinya.

· Berkencan dengan gebetan lain. Dengan harapan si dia menangkap basah Anda sedang berduaan di diskotek tempat biasa Anda berdua hangout.

· Waktu Anda kian lama kian sedikit buatnya.

· Mengabaikan keinginan dan kebutuhan si dia.
Putus cinta merupakan akhir dari tahap ini. Saat Anda mengatakan tak ingin lagi bersamanya berlusin-lusin perasaan hinggap di hatinya: merasa kecil hampa tak berguna tak dicintai tak berharga dan terkucil. Dia mulai mengharapkan Anda kembali sebab dia yakin hanya Andalah yang bisa menggairahkan hidupnya.

Demikianlah Materi Artikel Review FOBIA : Komitmen Dalam Hubungan Cinta Dari www.kuakap.com, Semoga Tentang Ulasan Singkat Sederhana ini Dapat Berguna Dan Ada Manfaat Untuk Kita Semua, Sekian Terimakasih, Luangkan Waktu Anda Juga Untuk Baca Postingan Sebelumnya Yaitu Fakta Nyata  Suster Plus-Plus
Title : FOBIA : Komitmen Dalam Hubungan Cinta
Posted by : Desy Rating 5 Star Published : 2016-03-23T11:36:00+07:00
loading...
 
Blogger Designed by IVYthemes | MKR Site
loading...