Minggu, 27 Maret 2016

KUAKAP.COM - Hujan deras. Nyonya Lita Trisnasari menyesal menyuruh sopir taksi tadi berhenti bukan di ujung gang. Tapi siapa sangka turun hujan seganas ini? Untung selalu ada payung kecil di dalam tasnya. Ia menyusuri trotoar. Menyelinap di antara kerumunan orang yang berteduh di emperan. Napasnya menderu. Di usia tujuh puluh kanker tulang di pinggang kanannya benar-benar tak memberinya kesempatan menjalani sisa hidup lebih ringan.

Di muka restoran Molenvliet-Noordwijk ia berhenti begitu saja seakan tahu seseorang akan segera membukakan pintu untuknya.
CERPEN: Pria Dari Negeri HALILINTAR

“Selamat siang Ibu Lita” pelayan wanita dengan rompi merah itu tersenyum “Hari ini penuh. Tapi kami tahu Ibu pasti datang. Jadi kami tetap reserve meja favorit Ibu.”

“Pintar Dewi. Selasa dan Kamis. Kalau tak keburu mati aku pasti ke sini.” Dewi tergelak.

Delapan bulan setelah kabur dari rumah sakit Nyonya Lita menjadi pelanggan tetap Molenvliet-Noordwijk. Ia betah di sini. Mungkin karena restoran ini masih menyisakan atmosfer kolonial suatu hal yang akrab baginya. Atau boleh jadi lantaran karyawan di sini memperlakukannya dengan hormat. Mengingatkannya pada hari-hari ketika ia masih menjadi istri direktur bank. Semasa suaminya masih hidup.

“ Hot cappuccino tanpa gula grilled chicken  dan jus tomat kan Bu?” Dewi membimbing wanita itu duduk.

“Ayolah Dewi. Tak ada yang berubah. Grilled chicken dan jus tomat setiap Selasa fettuccini alfredo dan jus stroberi setiap Kamis. Semuanya didahului secangkir hot cappuccino tanpa gula.” Nyonya Lita menepuk pundak Dewi.

Menanti pesanan Nyonya Lita menyulut rokok. Kerap kali ia batuk namun asap terus bersembulan dari bibirnya yang kisut.

Mendadak petir menyalak keras. Nyonya Lita terpekik. Rokoknya terlempar.

“Pasti ada pohon tersambar.” Dewi memadamkan rokok itu di asbak. Diletakkannya pesanan Nyonya Lita ke atas meja. ”Selamat makan Ibu” ujarnya.

Nyonya Lita mengangguk kemudian mulai memusatkan perhatian pada hidangan di atas piring. Menjelang suapan kedua ia merasakan kehadiran seseorang melalui gemersik kain serta aroma tubuh yang baginya sangat maskulin.

“Kadar lemak makanan itu cukup tinggi.” Sepotong suara bariton mampir ke telinganya “Seharusnya Anda tahu tak baik untuk penyakit Anda. Belum lagi kopi dan rokoknya.”

Nyonya Lita mendongak. Di depannya tegak seorang pria berjenggot putih dalam overcoat hitam. Usianya mungkin tak lebih muda dari Nyonya Lita tapi lihat tubuhnya! Nyonya Lita lahir di sekitar Pasar Ikan di antara gudang dan galangan kapal. Untuk satu dan lain hal tubuh pria ini mengingatkannya pada menara syahbandar yang kerap ia kunjungi bersama teman-temannya semasa kecil: tinggi dan lebar. Tapi yang luar biasa adalah ceruk matanya yang sangat dalam.

“Seandainya Anda tak mirip Sean Connery pasti sudah saya damprat.” Nyonya Lita meneruskan makan. “Siapa Anda? Mau apa di meja saya dengan pernyataan kurang sopan tadi?”

Pria tadi mengangkat bahu. Tak muncul ungkapan penyesalan dari bibirnya. Setengah disengaja ia menyeret kursi di depan Nyonya Lita menimbulkan derit yang menyiksa telinga.

“Boleh gabung? Semua meja terisi padahal saya juga ingin secangkir kopi panas.”

Nyonya Lita meletakkan pisau-garpunya dengan kasar.

“Saya biasa makan sendiri. Tetapi bila Anda mau mengatakan identitas Anda ditambah sedikit tata krama saya bahkan tidak keberatan mentraktir Anda secangkir kopi.” Nyonya Lita melambaikan tangan. “Kopi hitam untuk tuan ini” katanya kepada Dewi. Pelayan itu mengerutkan kening. Tapi ditulisnya juga pesanan tadi.

“Terima kasih. Anda benar-benar wanita penyendiri yang percaya diri.” Pria itu menyeringai. Bahasa tubuhnya kini jauh lebih halus. “Saya Guntur Wasesa dari Negeri Halilintar. Anda dengar suara petir tadi? Itu kendaraan saya.”

Nyonya Lita tersenyum.

“Saya Lita. Dari negeri atas angin. Kalau telat makan angin-angin tadi berebutan masuk ke perut saya. Itu sebabnya saya mampir ke sini.”

Pria itu tak terganggu dengan kesinisan Nyonya Lita.

“Mengapa pura-pura tidak merasa kesepian? Anak Anda kan pernah mengajak Anda tinggal serumah dengannya. Mengapa memilih hidup begini?” tanyanya.

“Bagaimana Anda tahu keluarga saya?”

“Sudah saya katakan saya datang dari Negeri Halilintar. Saya bahkan tahu riwayat setiap orang dalam ruangan ini.”

Nyonya Lita diam. Tak ada tanda-tanda kejahatan pada pria ini. Mungkin tak ada salahnya sedikit berbagi kisah dengannya. Apalagi dia--entah bagaimana--sudah tahu sebagian kisah keluarganya.

“Sebenarnya hanya agak kesal. Elisa Anisa dan Elkana. Ketiga anak perempuan saya itu sudah kawin semua. Dan menurut saya mereka jauh lebih cinta kepada para suami serta almarhum bapak mereka dibanding kepada saya” katanya.

“Siapa bilang?” Guntur mengangkat alis. ”Coba ingat siapa yang meletakkan bros kupu-kupu di bawah bantal pada ulang tahun Anda keempat puluh? Elisa bukan? Lantas siapa yang berebut ingin menjadi yang pertama mencium pipi Anda setiap peringatan pernikahan? Anisa dan Elkana bukan? Lalu….”

“Stop!” Nyonya Lita menggebrak meja. “Sekarang saya percaya Anda tahu banyak tentang keluarga saya. Walau begitu Anda tetap tak berhak menilai apa yang saya lakukan!”

“Saya ada di sini untuk menjadi suara hati Anda” Guntur memutus kalimat. Kopi hitam pesanan Nyonya Lita datang.

“Anak-anak itu cemas tapi tak berani menengok karena Anda mengamuk seperti setan sewaktu terakhir kali mereka minta Anda kembali ke rumah sakit.” Pria itu menghirup kopinya. “Teleponlah. Katakan Anda mencintai mereka dan menunggu kedatangan mereka. Katakan juga bahwa Anda rindu untuk dicintai.”

“Anda tak tahu penderitaan saya” Mata Nyonya Lita memerah. “Lima belas tahun saya berbagi nyawa dengan penyakit ini. Dulu rajin ke rumah sakit. Tetapi ketika dokter mulai meresepkan penghilang rasa sakit  serta menambah dosis kemoterapi saya sadar saat itu takkan lama lagi.” Nyonya Lita menumpangkan sebatang rokok di bibirnya. Tanpa kata Guntur menarik benda itu lalu mencampakkannya ke dalam asbak. Nyonya Lita tidak memprotes.

“Saya cuma ingin mengisi sisa waktu ini tanpa beban. Kedatangan anak-anak itu anjuran untuk kembali ke dokter bayangan tidur dengan infus di lengan seumur hidup membuat saya tertekan.”

Guntur menyangga dagu. ”Kedengaran egois bukan? Anda seperti menimpakan kesalahan pada semua orang karena penyakit itu.”

“Tadi saya katakan Anda tak berhak menilai saya!” Suara Nyonya Lita meninggi. “Habiskan kopi Anda. Pergi!” Nyonya Lita mengibaskan tangan berkali-kali.

“Saya pergi” Guntur mereguk sisa kopinya “tapi lusa saya ke sini lagi. Saya harap Anda berubah pikiran.”

Nyonya Lita menutup telinga tak ingin mendengar suara Guntur. Tetapi sulit menolak pesona si tubuh besar itu. Matanya mengikuti sampai pria itu hilang ditelan pintu. Tak lama setelah itu terdengar gelegar yang menampar gendang telinga. Nyonya Lita termangu. Kopi dalam gelas Guntur tak berkurang setetes pun.

Kamis siang

Lagi-lagi hujan. Nyonya Lita duduk di meja kesayangannya. Makanan telah tersaji tetapi tak ada niat menyentuhnya. Dua batang rokok telah menjadi tumpukan abu. Diabaikannya komentar Dewi bahwa hari ini wajahnya tampak pucat dan lelah. Diabaikannya pula rasa pegal luar biasa dari pinggangnya. Ketika petir menggema segaris senyum mekar di wajahnya.

“Anda sengaja menanti saya?”

Nyonya Lita mengikuti suara itu dan menemukan sumbernya sedang bersandar pada tiang beton di belakang tempat duduknya. Kali ini overcoat -nya berwarna kelabu.

“Semua pakaianmu seperti itu?” Nyonya Lita tertawa. Entah mengapa setiap melihat Guntur seolah ada gairah menyenangkan menyambar dari sumur jiwanya yang terdalam membuat setiap utas urat wajahnya terasa panas. Seperti saat ia berjumpa cinta pertamanya dahulu. Ini aneh mengingat ia baru dua kali bertemu lelaki ini.

“Sudah telepon?” Tanya Guntur.

“Duduklah dulu. Sudah saya pesankan kopi hitam.”

“Pasti belum.”

“Bagaimana ya? Saya….”

“Coba dengarkan ini” Guntur melempar badannya dengan kesal ke atas kursi “Tadi saya keliling kota. Elisa berdebat dengan suaminya. Minta diantar ke rumah Anda malam ini. Ia teguh dengan pendiriannya ingin membujuk Anda agar mau ke rumah sakit. Suaminya setuju tapi tidak mau menemani berkunjung. Ia belum bisa melupakan ucapan kasar Anda.”

“Suami bakiak” Nyonya Lita menggumam.

“Bila benar demikian tentu ia tak berani menentang ide berkunjung itu.”

“Mengapa saya selalu di posisi yang disalahkan? Saya cuma ingin menikmati kematian dengan tenang. Sesederhana itu!”

“Anda menyimpan utang pertemuan dengan anak-anak. Kematian Anda takkan tenang.” Guntur membuka sarung tangan. “Hari ini saya juga melihat Anisa dan Elkana. Mereka sungguh mengkhawatirkan keadaan Anda. Mereka pun ingin berkunjung malam ini. Tentang suami mereka saya percaya yang mereka butuhkan cuma sepotong ungkapan sesal dari Anda. Berikanlah selagi ada waktu.”

Nyonya Lita lama memainkan sendok makannya. “Mungkin saya memang butuh mereka” gumamnya “Mereka boleh datang meski saya tetap menolak rumah sakit. Bau disinfektan membuat saya histeris. Tapi ya saya akan menelepon mereka nanti.”

Nyonya Lita menoleh ke depan. Tamunya sudah lenyap menyusul dentuman yang semakin akrab bagi telinganya.

Selasa siang

Diiringi riuh hujan Nyonya Lita tiba di Molenvliet-Noordwijk. Ia terkejut. Guntur sudah di belakang meja. Hari ini pakaiannya putih. Juga wajahnya. Setidaknya menurut penglihatan Nyonya Lita.

“Kecuali baju dokter belum pernah saya melihat overcoat putih. Tapi tak apa Anda tampak agung dengan kostum itu.” Nyonya Lita terbatuk-batuk menyambar tempat duduk.

“Saya sudah bertemu anak-anak akhir pekan lalu. Mula-mula agak kaku tapi akhirnya kami bisa bicara panjang-lebar. Saya juga sudah minta maaf kepada para menantu. Mereka tak menyinggung lagi soal rumah sakit. Saya katakan yang saya perlukan cuma istirahat. Mungkin ditambah sedikit morfin . Mereka bisa mengerti.”

“Saya tahu. Bagi orang sekukuh Anda tak ada hal yang sulit.” Guntur mengangkat ibu jarinya.

“Sudah empat hari saya sulit makan.” Nyonya Lita kembali terbatuk-batuk. Guntur menatap iba. Tapi kali ini ia tak bereaksi ketika wanita itu mulai menyalakan rokok.

“Pagi tadi saya muntah-muntah. Tapi entah rasanya ingin sekali bertemu dengan lelaki dari Negeri Halilintar ini.” Nyonya Lita menyorongkan muka sedekat mungkin dengan wajah lelaki di hadapannya. “Ceritakan lebih banyak tentang Negeri Halilintar” bisiknya “Setiap mendengar Anda bicara nyeri di pinggang terasa berkurang.”

Guntur menukar senyumnya dengan desah.

“Tak suka topik ini?”

“Bukan” pria tadi tertunduk. “Sesungguhnya saya bukan hanya akan bercerita. Tugas utama saya setelah membereskan utang Anda adalah membawa Anda ke sana siang ini.”

“Ke sana?” Nyonya Lita ragu. Ia ingat pinggangnya yang rawan.

“Ya” pria itu memburu mata Nyonya Lita. “Ke sana” ia menunjuk ke atas.

Nyonya Lita balas menatap. Seluruh simpul saraf yang mendukung alam warasnya bekerja keras. Akhirnya ia pasrah. “Saya tahu siapa Anda ” katanya “Saya sudah siap. Saya rasa anak-anak juga sudah siap. Bagaimana menurut Anda?”

“Sejak pertemuan kemarin mereka telah siap.” Guntur mengangguk. “Mari” ia mengulurkan tangannya ke depan. Saat itu juga jenggotnya lenyap. Wajahnya menjadi sepolos anak belasan tahun. Tetapi ceruk matanya masih tetap dalam. Detik berikutnya ujung overcoat -nya mengembang menjadi sepasang sayap tebal. Harum cendana meruap ke seluruh penjuru ruangan. “Mari” ia mengulang ajakannya.

Agak ragu Nyonya Lita menangkap tangan itu. Matanya terpejam. Dalam gelap ia menyaksikan riwayat hidupnya diputar ulang: Pasar Ikan. Menara syahbandar. Kuda kayu hadiah dari Opa Liem pada ulang tahun kelima. Taman kanak-kanak. Cermin besar bermotif bunga peony di kamar mandi. Lulus sekolah rakyat. Tetes menstruasi pertama. Jerawat. Sekolah kejuruan putri. Pesta dansa di Harmoni. Belajar merokok. Surat cinta. Patah hati. Jatuh cinta lagi. Malam-malam hangat bersama kekasih. Pesta pernikahan di Jembatan Lima. Wangi hio. Kamar pengantin berdinding merah. Erangan. Rasa nikmat. Senyuman. Tangan-tangan yang mengelus perut besarnya. Keriut brankar. Bujukan dokter agar terus mengejan. Rasa sakit luar biasa di antara paha. Teriakan suaminya. Tangis bayi pertama. Tangis bayi kedua. Tangis bayi ketiga. Menghadiri wisuda anaknya yang pertama kedua ketiga. Pernikahan anak pertama. Kedua. Pemakaman suaminya. Air mata. Tahun-tahun sepi. Pernikahan anak ketiga. Cucu pertama. Wajah kosong Dokter Anwar. Vonis kanker. Air mata. Infus. Radiasi. Kemoterapi. Gumpalan rambut berguguran. Jam-jam renungan. Batang-batang rokok. Dan akhirnya ia melihat kilatan petir yang sangat terang. Berpendar sejengkal di depan matanya. Kali ini tanpa suara. Lalu hening berabad-abad. Putih berabad-abad.

Setelah itu pemandangan menjadi jelas kembali. Ada yang aneh. Nyonya Lita meraih pinggangnya. Gumpalan tumor itu lenyap. Dan tubuhnya. Belum pernah ia merasa seringan ini. Melayang di antara lampu kristal. Lampu kristal? Nyonya Lita menengok ke bawah. Masih di restoran yang sama. Hanya saja saat ini ia melihatnya dari arah atas dekat sekali dengan langit-langit ruangan.

Ia menoleh ke kanan. Guntur. Pria tampan itu menyeringai seraya mengetatkan pegangan tangannya. “Kita sedang berputar ambil ancang-ancang untuk take-off ” katanya jenaka.

Sekali lagi Nyonya Lita memandang ke bawah. Ia melihat Dewi. Pelayan yang baik hati itu menyerukan sesuatu. Telunjuknya mengarah ke meja dekat jendela. Ia mengikuti tangan Dewi. Astaga tubuhnyakah itu? Tertelungkup di atas meja. Lelap dalam senyum. Rokok putih di tangan kirinya masih menyala. Seorang pria meraba nadi lehernya lalu menoleh kepada kerumunan orang. Menggeleng.

“Sudah tiga kali bulan ini ia bercakap-cakap sendiri. Memesan kopi hitam di luar makanan kesukaannya. Katanya untuk tamu di depannya.” Dewi tampak sangat terguncang

Tak ada yang berkomentar. Di luar hujan telah reda. Tetapi semua yang ada di dalam ruangan itu dapat mendengar gelegar petir sangat Keras sekali telah terjadi Halilintar Masih

Demikianlah Materi Artikel Review CERPEN: Pria Dari Negeri HALILINTAR  Dari www.kuakap.com, Semoga Tentang Ulasan Singkat Sederhana ini Dapat Berguna Dan Ada Manfaat Untuk Kita Semua, Sekian Terimakasih, Luangkan Waktu Anda Juga Untuk Baca Postingan Sebelumnya Yaitu FAKTA: Cinta Semalam Kenalan, Ngobrol, Bercinta Dan Menyesal
Title : CERPEN: Pria Dari Negeri HALILINTAR
Posted by : kyu enda Rating 5 Star Published : 2016-03-27T14:32:00+07:00
loading...
 
Blogger Designed by IVYthemes | MKR Site
loading...