Kamis, 11 Februari 2016

KUAKAP.COM - Saat ini banyak cewek yang kerja dikantor ataupun dirumah sakit memiliki gaji tinggi, atau si perempuan seorang pegawai negeri sipil kerja di kantor kelurahan, departemen kesehatan ntah di juga kerja di BANK BUMN, apakah laki-laki harus jadi minder karena gaji si dia lebih baik dari anda ?

Wacana singkat cerita kita buat ilustrasinya begini, Sebuah pameran lukisan mempertemukan IWAN (seniman) dan AYU (manajer senior sebuah perusahaan periklanan). Sebelumnya, AYU memang mengaku menjadi pengagum berat karya-karya lukisan IWAN yang menurutnya sangat menyentuh hati perempuan.

Tapi lebih dari itu, sejujurnya, AYU jatuh hati pada kharisma yang dipancarkan oleh IWAN. Beberapa kali mereka mengobrol bersama. Penampilan atraktif AYU, dengan pengetahuan seninya yang luas , ternyata juga mampu menggamit perhatian seorang IWAN. Dari segi fisik, mereka jauh berbeda
Apakah Gaji WANITA Lebih Besar  PRIA Jadi Minder ?
.sorce image via pixabay,com
IWAN seorang yang sangat sederhana, sedangkan AYU berpenampilan layaknya wanita karir masa kini. Stelan blazer warna tanah, kalung emas yang terkini, tas kulit besar plus sepatu tumit tinggi, tak pernah absen dikenakannya

Bukan cinta namanya kalau tak mampu menghapus segala perbedaan begitu kata pujangga, Perbedaan yang menonjol di antara keduanya justru dirasa saling melengkapi. IWAN menjadi banyak belajar mengenai kehidupan karir wanita masa kini, sedangkan AYU? Pergaulannya dengan IWAN (juga seniman-seniman lain) diakuinya memberi warna yang lain pada kehidupannya. Tekanan kerja, bos yang egois, situasi kantor yang keruh, semuanya cepat sirna karena kehadiran IWAN (juga dunia kesenimanannya). Tiga bulan setelah pertemuan pertama itu, IWAN dan AYU pun memproklamirkan cinta mereka. Ya, mereka berpacaran.

Sejak berpacaran dengan IWAN, AYU tak pernah menuntut yang namanya materi. AYU mengerti, kata yang satu itu sangat sensitif bagi IWAN. AYU tak pernah menuntut hadiah atau pun ditraktir makan malam romantis di restoran mewah oleh IWAN (walau sebagai wanita kosmopolitan, kedua hal itu pernah jadi gaya hidupnya). AYU malah berusaha ‘menyederhanakan diri’, tak saja dari segi penampilan, juga gaya hidup.  Adaptasi AYU tersebut rupanya menumbuhkan rasa optimis pada hubungan cinta mereka. Karena itu, karena usia keduanya telah sama-sama matang, maka mereka pun akhirnya memutuskan untuk menikah setahun kemudian.

Kini, 3 tahun sudah mereka berkeluarga. AYU tetap menjadi wanita karir, dan IWAN sebagai seniman yang bekerja di rumah. Dari segi penghasilan, tak dapat disangkal, AYU lah yang lebih tinggi. Meski demikian, sejak awal pernikahan, mereka telah sepakat untuk mengatur keuangan keluarga secara bersama-sama. Tak ada istilah ‘uangku’ atau ‘uangmu’, tetapi yang ada adalah ‘uang kita’.

Namun, masalah demi masalah kemudian muncul bak jamur di musim hujan. Sebagai wanita, AYU punya juga batas-batas di mana ia merasa lelah karena harus terus menerus menghidupi keluarga. Apalagi jika ia mendapati keadaan rumah yang berantakan, sementara IWAN dengan tenangnya menonton acara televisi yang disukainya. AYU juga yang harus memikirkan bagaimana cara melunasi kredit rumah sebelah yang baru dibelinya sebagai workshop untuk IWAN. Semua pengeluaran untuk rumah tangga, dari yang kecil sampai yang besar menjadi tanggung jawab AYU pada akhirnya, karena lukisan-lukisan IWAN tak selalu laku keras. Menanggapi sikap AYU yang makin lama makin otoriter, kemarahan IWAN pun tak jarang meledak.

Pernikahan seperti ini, menurut para ahli, memang akan menempuh jalan yang lebih berat. Artinya, pernikahan dengan istri sebagai pencari nafkah utama (bukan suami) memang akan banyak menemui masalah. Menurutnya, seorang laki-laki, sejak kecil memang telah dikondisikan sebagai pelindung keluarga, pencari nafkah, dan sebagai seorang yang akan memenuhi segala macam kebutuhan keluarga. Bila fungsi ini beralih pada seorang wanita, tak jarang masalah pun muncul, tak hanya dari si wanita tetapi juga dari pria. Wanita merasa berat, dan pria merasa minder.

Situasi seperti ini harus cepat-cepat diatasi. Bukan dengan membalikkan keadaan (suami langsung disuruh mencari nafkah dan istri berhenti bekerja). Kuncinya adalah : pandai-pandailah berkomunikasi, bersikap kompromi dan adaptasi. Masalah pasti ada, namun pasti juga ada jalan untuk mengatasinya. Jadi, jangan berkecil hati.

-  Perbaikan sikap, mau tak mau, harus datang dari diri sendiri terlebih dahulu. Setelah itu, pasangan pun akan terpicu untuk melakukan hal yang sama. Alangkah baiknya jika dalam memutuskan apa pun AYU melibatkan IWAN.

Diskusikan tentang keberatan-keberatan yang dirasakannya, juga diskusikan jika AYU tengah bermasalah di kantor. Dengan demikian IWAN akan merasa terlibat dan mempunyai peran. Ajak IWAN untuk juga memikirkan cara lain mendapatkan penghasilan tambahan.

-  Meski patuh pada komitmen awal merupakan hal yang cukup penting, tapi jangan lupa, bahwa ada hal-hal yang luput dari prediksi awal. Nah, untuk hal-hal itulah perlu ada sikap kompromi. Luwes menghadapi masalah konon merupakan salah satu kunci terurainya masalah itu.

-  Bersikap realistis mungkin juga dapat lebih meringankan beban yang mengganjal. Jika memang kehidupan seperti itu yang menjadi jalan hidup AYU, ya jalanilah bersama.

- Love doesn’t solve anything. Tapi kegaiban cinta masih harus diperhitungkan. Ingatlah kembali masa-masa di mana cinta pertama kali bersemi. Ingat pula apa kelebihan-kelebihan suami yang membuat istri jatuh cinta, dan sebaliknya.

Demikianlah Artikel Review Apakah Gaji WANITA Lebih Besar PRIA Jadi Minder ? Dari www.kuakap.com, Semoga Dengan Ulasan Singkat Dan Sederhana ini Dapat Berguna / manfaat Untuk Kita Semua, Sekian Dan Terimakasih, Luangkan Waktu Anda Juga Untuk Baca Postingan Sebelumnya Yaitu 8 Cara Jitu Menghibur Si Dia Yang Lagi Murung / Ngambek
Title : Gaji WANITA Besar, Apakah PRIA Jadi Minder ?
Posted by : YU NI Rating 5 Star Published : 2016-02-11T18:17:00+07:00
loading...
 
Blogger Designed by IVYthemes | MKR Site
loading...